Sabtu, 18 Januari 2014

Tabel Astronomi karya Al – Khawarizmi



 
Tabel Astronomi karya Al – Khawarizmi

Sebagai seorang praktisi astronomi, Al – Khawarizmi dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri bidang “Astrolabe” dan telah menyusun kurang lebih seratus tabel tentang bintang. Salah satu karyanya yang berjudul “ Zij al-Shindhind” merupakan karya terpenting hingga saat ini. Buku tersebut merupakan sebuah tabel astronomis yang telah diterjemahkan oleh Adelard dari Bath ke dalam bahasa Latin dan juga diterjemahkan oleh  B. R Goldstein.
Sebuah analisa terhadap “Tables” Al – Khawarizmi mengungkapkan sumber-sumber  yang digunakan serta ketidakteraturan sifat subjeknya. Teori menyangkut bulan misalnya, berasal dari sebuah sumber antara (intermediate source) yang tidak ada kaitannya dengan “Almagest”. Metode-metode yang digunakan untuk menentukan garis bujur sebuah planet secara tepat, berasal dari “Surya Shidanta” dan “Janda Jadyaka”. Nilai-nilai gerakkan berasal dari Brahmagupta. Dan dalam  manuskrip  “Corpus Christi College” yang berasal dari Adelard, terdapat sebuah gambaran mengenai gerak acak yang dijelaskan oleh Azarqui.
Sebuah sumber yang sama dapat dikenal dalam persamaan-persamaan yang menyangkut matahari dan dalam tabel-tabel sinus dengan R=150 yang kemudian diganti, dalam penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan oleh Maslama, dengan persamaan-persamaan lain dengan basis R=60, sebuah bilangan asli  Yunani. Disisi lain metode-metode yang digunakan untuk menentukan gerakan maju mundurnya sebuah planet, langsung atau tidak berasal dari buku pegangan “Tables” karya Theo. Unsur-unsur lain yang diberikan di dalamnya, dalam Tables Al-Khawarizmi berasal dari “zij Ma’munj” dan Zijasy-Syah”. Sedangkan dalam penentuan parallax, algorisme ulang (the repetitive algorism) diperoleh dari “Janda Jadyaka” dan ini membawa suatu parallelisme tertentu dengan metode yang digunakan oleh Keppler untuk menetapkan eksentrik.
Wahh... hebat ya ternyata orang islamlah yang pertama kali mempelopori ilmu modern zaman sekarang...

Semoga bermanfaat... see you...

Sumber: Profil ilmuan muslim perintis ilmu pengetahuan modern oleh M. ishom El-Saha, MA dan Saiful hadi El-Sutha, SAg



Rasyiduddin Al-Suwary



Rasyiduddin Al-Shuwary  Ilmuan Muslim Bidang Biologi

        Berbicara mengenai peradaban Islam dan zaman keemasannya, maka yang teringat pertama kali adalah Baghdad yang menjadi pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah dan dijadikan sebagai pusat ilmu pengetahuan.
        Perkembangan ilmu yang telah dimulai sejak permulaan Daulah Abbasiyah ini menjadi pendorong kebangkitan Eropa.
        Setelah kebangkitan Eropa, mereka mempelajari ilmu-ilmu ini dan terbukti bahwa penyusun dan peletakkan dasar dasarnya berasal dari kaum muslimin. Salah satu ahli yang terkenal di bidang pertanian adalah Rasyiduddin Al-Shuwary.
Ahli agronomi ini mempunyai nama lengkap Mansur Ibnu Abi Fadl Ibnu Ali Rasyiduddin Al-Shuwary. Ia mashur sebagai ahli ilmu pengetahuan alam, ahli botani sekaligus dokter. Ilmuwan ini lahir tahun 1177 atau 1178.       
        Sejarah mencatat bahwa Rasyiduddin Al-Suwary adalah ahli botani yang menciptakan metode baru dalam menyelidiki tumbuh tumbuhan yang belum ada sebelumnya.
        Sebagaimana ilmuwan lain pada umumnya, selain terkenal sebagai ahli botani, nama Rasyiduddin Al-Shuwary pun masyhur dalam bidang farmasi. Hal ini dapat kita buktikan dengan salah satu kitab farmasi karangannya yang berjudul “al-Adawiyah al-Mufradah” (obat-obat pilahan/ risalah tentang medis sederhana) yang uraiannya sangat teliti dan mendalam.

 Semoga tulisan ini memotivasi kita untuk lebih semangat belajar dan lahirlah kembali ilmuan islam di era modernisasi ini...
see you... 
Sumber: Profil ilmuan muslim perintis ilmu pengetahuan modern oleh M. ishom El-Saha, MA dan Saiful hadi El-Sutha, SAg



Ibnu Wafid



Ibnu Wafid Ilmuan Muslim dalam bidang Fisika

Nama lengkap Ibnu Wafid adalah Abu Al-Mutarrif Abdur Rahman bin Muhammad Al-Lakhmi Ibnu Al-Wafid. Tidak banyak yang dapat diketahui mengenai riwayat hidupnya.
Ibnu Wafid adalah seorang muslim Andalus yang terkenal sebagai ahli farmakologi , kedokteran serta pertanian. Setelah belajar ilmu kedokteran pada Abu Qasim az-Zahrawi di Kordova ia lalu mnetap dikawasan Toledo pada tahun 460 H/1067 M. Karya fenomenanya yang berjudul “Kitab Jami’ al-Thib” oleh orang Eropa diterjemahkan kedalam bahasa Latin dengan tujuan “De Medicinis Universalibus et Particularibus”.
Walaupun ahli dibidang farmasi, ia lebih menyukai penyembuhan suatu penyakit tertentu dengan cara diet yang tepat. Kalaupun terpaksa, maka yang digunakan hanyalah campuran obat-obatan sederhana. Dialah yang telah mengemukakanpenggunaan ukuran-ukuran tentang diet untuk penyembuhan suatu penyakit, dan ialah pula yang mrenemukan suatu metode penyelidikan mengenai reaksi obat bius dalam tubuh manusia. Beberapa karya Ibnu Wafid yang masih bisa dijumpai:
1.    Kitab fi al-Aswiya al-Mutrada bukun ini diterjemahkan oleh Gerald dari Cremona dengan judul  Liber Albenguefith Phlosophi de Virtutibus Madicinarum et Ciborum.
2.   Kitab al-Wisad fi ath-Thibb
3.   Majmu’ fi al-Filaha
4.   De Balneis Semo, judul ini disebutkan oleh Mieli.

Sekian tentang Ibnu Wafid...
Semoga bermanfaat... see you...

Sumber: Profil ilmuan muslim perintis ilmu pengetahuan modern oleh M. ishom El-Saha, MA dan Saiful hadi El-Sutha, SAg



Ibnu Sina



IBNU SINA PERINTIS STUDI PENYAKIT SYARAF

 
Ibnu sina dibarat dikenal dengan nama Avicenna mempunyai nama lengkap Abu Ali Al-Huseyn bin Abdulloh bin Hasan Ali bin Sina, ia lahir pada bulan Shafar 370 H.
        Salah satu bukunya yang cemerlang adalah “al-Qanun fi ath-Thib” (Canon of Medicine), buku ini digunakan sebagai buku teks kedokteran diberbagai universitas di Prancis.
        Mengenai fakta kuatnya pengaruh buku “al-Qanun fi ath-Thib”, mengingatkan dalam pembukaan Canterbury Tales” bahwa sejak abad ke 13 M hingga abad ke 16 tak satu pun dokter atau penulis dalam bidang kedokteran yang lepas dari pengaruhnya.  Bahkan sampai abad ke 19 M buku tersebut masih tetap digunakan terutama mengenai penyakit syaraf (neurasthenia) dimana Ibnu sina merupakan perintisnya. Buku tersebut juaga mengajarkan tentang pembedahan yang didalamnya ia menandaskan perlunya sterilisasi dengan jalan pembersihan luk. Didalamnya terdapat keterangan-keterangan, sketsa-sketsa dan gambar-gambar yang menunjukkan pengetahuan Ibnu Sina tentang anatomi yang mendalam.
Sebagai seorang dokter kawakan, ia pernah dijuluki sebagai “Medicorum Principal” atau “Raja Diraja Dokter” oleh Latin Sklastik. Julikan lainnya yang disematkan kepadanya adalah “ Raja Obat”.
        Ia mulai terjun kelapangan sebagai dokter praktik ketika baru menginjak usia 18 tahun. Meskipun ia sangat muda ia mampu mengobati Sultan Nuh II bin Mansur pada tahun 387 H/997 M padahal waktu itu para dokter lain sudah hampir putus asa mengobati Sultan Nuh II bin Mansur, tetapi berkat pertolongannya Sultan Nuh II bin Mansur sehat kembali, dan Ibnu Sina pun diangkat menjadi dokter pribadi di Istana Sultan.
Semoga tulisan ini memotivasi kita untuk lebih semangat belajar dan lahirlah kembali ilmuan islam di era modernisasi ini...
see you... 
Sumber: Profil ilmuan muslim perintis ilmu pengetahuan modern oleh M. ishom El-Saha, MA dan Saiful hadi El-Sutha, SAg